Haul Tumenggung Kopek, Sri Sultan HB XI Disebut Bakal Hadir, Khofifah dan Novi Absen

indonesiasatu, 27 Oct 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

NGANJUK - Ratusan umat Islam dari berbagai daerah membanjiri halaman tugu pakuncen Desa Pakuncen, Patianrowo. Mereka menghadiri pengajian umum dalam rangka memperingati haul Eyang Tumenggung Kopek alias Kiai Nurjalipah yang diselenggarakan keluarga besar paguyuban petilasan agung Pakuncen. Minggu 27-10 -2019.

Hadir dalam acara tersebut Wagub Nganjuk Marhaen Djumadi, Dandim 0810/Nganjuk Letkol Inf Joko wibowo Kapolres Nganjuk AKBP Handono Subiakto, Dai untuk Millenial Zaman Now KH. Achmad Muwafiq Sleman Jogja, Pengurus pemangku petilasan tumenggung kopek beserta tamu undangan.

Dalam pelaksanaan haul yang diprediksi dihadiri Sri Sultan Hamangkubuwono XI serta Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawangsa dan Bupati Nganjuk H.Novi rahman hidayat sangat ditunggu masyakat khususnya warga Patianrowo pada umumnya, tapi semua itu hanya isapan jempol, pasalnya baik Sri Sultan, dan Khofifah beserta Novi Rahman Hidayat tidak kelihatan mula awal kegiatan.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menyampaikan haul Eyang Tumenggung Kopek atau Kiai Nur Jalipah menjadikan tongkak sejarah perjuangan di Pakuncen dan juga mengingatkan kita semua akan meninggalkan dunia. Mari kita tiru ketauladanan Eyang Tumenggung Kopek yang menghormati perbedaan demi menjaga kebhinekaan sehingga terwujud perdamaian. 

"Saya juga menyampaikan permintaan maaf dari Mas Bupati tidak hadir dikarenakan ada tamu dari jakarta dan nanti siang berangkat ke Solo untuk menemui beliaunya,"jelas Marhaen

Lanjut Marhaen, ia mengajak kepada masyarakat yang hadir dan umumnya yang mendengarkan. Mari kita jaga persatuan dan kerukunan agar ketertiban dan keamanan di Patianrowo tetap kondusif

Dalam tausyiahnya, Gus Muwafiq menyampaikan ojok lali karo asal usulmu, tentang mbh buyut kalau di islam ojok lali karo sing sepuh (jangan melupakan silsilahmu dan jangan melupakan yang lebih tua)

Selain itu, Ulama fenomenal jebolan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu juga menjelaskan kalau mengikuti ulama pasti selamat dunia dan ahirat seperti halnya trafo yang berasal dari malang, disitu diperumpakan ada aliran listrik yang masuk melalui kabel dan aliran listriknya besar jangan langsung di sambungkan nanti akan meledak seperti halnya memasang meteran didalam rumah anjuranya  berapa volt nanti pasti selamat dan pas takarannya.begitulah perumpamaan dalam kehidupan kita

Hampir lebih 2 jam, Dai Millenial Zaman Now, Gus Muwafiq mengatakan, dengan memahami dan memaknai arti silsilah dan peringatan pengajian umum serta Haul Tumenggung Kopek tersebut, diharapkan khususnya anak-anak kita nanti setahun sekali bawa oleh-oleh namanya Srodo, maka dari dari itu anak kita dalam dalam setahun sekali juga dinamakan Nyadran menjadi semakin padu dan harmonis.

“Antusiasme masyarakat ini cukup luar biasa terhadap haul. Dengan memahami makna haul orang akan ngerti kalau manusia yang mengikuti Rosulullah itu punya kurun waktu yang berbeda-beda,” katanya.

Dalam kurun waktu yang berbeda-beda itu, lanjut Gus Muwafiq, menghasilkan cara pandang yang sedikit berbeda dalam setiap wilayah dan setiap tahun.

“Jadi orang tidak perlu lagi ribut masalah ini. Ulama gak ada yang bikin-bikin masalah yang sulit, makanya jangan su’udzon dulu,” papar dia.

Sementara, Abdi Dalem Makam Eyang Tumenggung Kopek Kiai Nurjalipah Nadir menyampaikan terimakasih atas kehadiran Gus Muwafiq dan juga ratusan jamaah yang memadati lokasi acara. Dia juga bersyukur acara tersebut sukses digelar meskipun Kanjeng Sinuwun Argo Dalem Sri Sultan HB XI smpai detik ini tidak ada kejelasan untuk datang janji akan hadir dalam acara meniko (sekrang)

"Kami tidak bisa berbuat apa-apa yang jelas beliaunya sebagai raja tidak bisa di ganggu gugat keputusan raja adalah keputusan yang sangat penting,"urainya dengan berkaca-kaca

Saya mewakili abdi dalem eyang tumenggung kopek mengucapkan terima kasih kami sampaikan kepada Gus Muwafiq. Harapan dengan kehadiran beliau mudah-mudahan masyarakat Pakuncen dan umumnya yang menghadiri acara haul ini bisa memahami apa yang disebut sejarah sehingga tidak gagal paham tidak salah memahami terlebih setelah mendengarkan arahan tausyiah darialmukarom jadi tahu sejarah,” kata Nadir

Lanjut Nadzir, di makam Pakuncen sendiri sudah ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1994-1995 beruba dua buah tempayang berusia era Majapahit dibawah ke makam Pakuncen,"jelasnya (Mbhri/kla)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu